Benarkah Tarawih 20 Rakaat? (3)

Bab 3

Pendapat Para Ulama

Ada beberapa riwayat yang meriwayatkankan tentang sembahyang tarawih lebih dari 20 rakaat. Faktanya, lebih dari 150 tahun standard tarawih di Madinah adalah 36 rakaat. Hal ini disebabkan karena ada beberapa jamaah mengerjakan sembahyang 4 rakaat sendiri-sendiri di setiap antara sembahyang tarawih, sehingga dengan demikian ada 16 rakaat sholat sunnah plus 20 rakaat tarawih. Namun demikian, hanya yang 20 rakaat saja yang dikerjakan secara berjamaah.

Tetapi akhirnya tambahan 4 rakaat di setiap interval tarawih itu ditinggalkan dan sembahyang 20 rakaat menjadi standard amal tarawih di setiap kota. Di sini, walaupun tidak semua nama-nama ulama disebut secara eksplisit di dalam buku-buku fiqh, tetapi dapat dipastikan bahwa setelah zaman Rasulullah saw dan para sahabat serta tabi’in & tabi’it tabi’in, semua ulama ahlu sunnah wal jamaah menetapkan 20 rakaat tarawih sebagai madzab resmi.

Beberapa ulama yang mendukung pendapat ini adalah antara lain :

Syeikhul Islam Imam Ibn Abdul Barr Qurtubi (463 A.H): Pendapat beliau bahwa sembahyang 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir adalah berdasarkan riwayat yang paling kuat. (Masabih)

Imam Ghazali (550 A.H) menulis: tarawih itu 20 rakaat, hal ini sudah sangat masyhur dan sunnah muakkadah. (Ihya ul Ulum vol.1 hal.139)

Syeikh Abdul Qadir Jailani (561 A.H) menulis, sembahyang tarawih adalah sunnah Rasulullah saw dan itu meliputi 20 rakaat. (Ghunyatut Talibin hal.464)

Imâm Ibn Qudâma Hambali (620 A.H) menyebutkan: Menurut Imam Ahmad Ibn Hambal, pendapat yang paling kuat adalah 20 rakaat. (Al Ghina vol.1 hal.802)

Imâm Nawawi (676 A.H.), pensyarah hadits Sahih Muslim menulis: Ingat bahwa tarawih secara bulat disepakati sebagai amal sunnah umat islam. Dan itu adalah 20 rakaat. (Kitabul Azkaar hal.83)

Syeikh Ibn Taymiyah (728 A.H.) menulis: Telah diterima bahwa Ubay Ibn Ka’b biasa mengimami sembahyang untuk jamaah dengan 20 rakaat di bulan ramadlan dan 3 rakaat witir. Dari sini, para ulama bersepakat 20 rakaat sebagai sunnat karena Ubay biasa mengimami jamaah yang terdiri atas Muhajirin dan Anshar dan tidak seorangpun di antara mereka menolaknya. (Fataawa Ibn Taymiyyah vol.23 hal.112)

Allamah Subki (756 A.H.) menulis dalam Minhaj: bahwa jumlah rakaat di malam-malam itu (ramadlan) belum ditetapkan dari Rasulullah saw, namun madzab kami adalah 20 rakaat.

Allamah Badrudîn Aini (855 A.H.) membuktikan secara meyakinkan dalam Syarah Sahih Bukhari-nya tentang kesahihan 20 rakaat tarawih ini. (Aini Sharh Bukhari)

Hâfiz Ibn Hajar Asqalâni (852 A.H.) menyebutkan bahwa praktek 20 rakaat sudah sangat populer. (Al Masabih)

Abdul Wahhâb Sharâni (973 A.H.) di dalam pendapatnya bahwa 20 rakaat tarawih di bulan ramadlan lebih baik dengan berjamaah. (Mizan Sha’rani)

Ibn Âbidîn Shâmi (1203 A.H.) menulis: Tarawih adalah sunnah muakkadah karena era Khulafaurrasyidin memastikannya. Itu adalah 20 rakaat setelah Isya’. Ini adalah pendapat Jumhur dan semua orang mempraktekkannya dari timur sampai barat. (Ad Durrul Mukhtar vol.1 hal.511)

Dan masih banyak lagi.

Bersambung ……………….

sumber: http://qa.sunnipath.com/