Fatwa-fatwa kafir itu

Fatwa-fatwa kafir

Diringkas dari: http://wahabisme.wordpress.com/

Di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, dikatakan bahwa:

“Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Majalah Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon disana dijelaskan, kelompok-kelompok yang di anggap penyebar TBC.

Dimulai dari Syi’ah, Shufiyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Quthbiyyah Ikhwaniyyah, Quthbiyyah Sururiyyah, Tablighiyyah, Hizbut Tahrir, dan sederet nama-nama lainnya yang dianggap sesat dan menyesatkan ummat. Dan dari klaim klaim yang mereka dakwakan mereka sedang merusak agama Muhammadi dan menyebarkan TBC di tengah masyarakat. [Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon. Jawa Timur]

Didalam kitab ar-Raddu alal Ahnani li Ibni Taimiyyah cetakan Assalafiyah wa Maktabatuha, Halaman 24: dikatakan bahwa

“Hanya orang bahlul dan bodoh dan KAFIRlah yang pergi untuk ziarah ke kubur Nabi s.a.w.”.

Di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, bahwa:

“Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Abdul Aziz bin Baz, dalam Al-akidah As-shahihah wa Nawaqidhul Islam, bahwa:

“Barangsiapa yang minta tolong kepada Nabi s.a.w dan meminta kepada Rasul syafaatnya maka ketahuilah mereka telah MURTAD”.

Di dalam kitabnya yang berlabel Kasfu As-syubuhat fit Tauhid li Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Al-qahirah, halaman 6, Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mengatakan

mereka yang berdalil dan menetapkan bahwa syafaat adalah sebuah kebenaran atau mereka yang berkeyakinan bahwa para auliya Allah s.w.t mempunyai maqam khusus disisiNYA, di anggap sebagai MUSRIKIIN.

Dalam kitab Ad-dururu As-sanniyah, juz 10, Halaman 51 Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:

”Sebelum Allah s.w.t. memberikan kepada saya anugerah. saya tidak mengetahui makna La ilaha ilallah dan tidak memahami agama Islam, sementara ketika itu banyak di antara Syeikh-syeikh yang ada tidak ada yang mampu memahami makna itu. Jadi jika ada salah satu dari ulama yang mengaku memahami makna itu atau mengaku telah mengetahui makna Islam sebelum jaman saya atau mengira bahwa salah satu dari ulama [yang dicap TBC, red] itu memahami makna itu sebelum jaman saya, berarti dia telah berbohong dan telah menyamarkan makna ini serta dia telah memaknai sesuatu yang tidak dia ketahui”.

kitab yang sama juz 10, Halaman 31, sepucuk surat ditulis oleh M bin Abdul Wahhab ditujukan kepada Syeikh Sulaiman bin Sakhim [Syeikh ini adalah pengikut Mazhab Hanbali dan salah satu muqallidnya Ibnu Taimiyah] dan mengatakan:

”Saya ingatkan engkau, kamu dan ayahmu sudah jelas jelas dalam kekafiran, musrik dan nifaq! Engkau dan ayahmu setiap hari hanya berusaha untuk memusuhi agama islam, walaupun engkau mempunyai ilmu tetapi engaku malah tersesat dan engkau telah memilih kekafiran dari pada memilih Islam.

Dari sumber : http://abusalafy.wordpress.com/
Ad Durar as Saniyyah Fi al Ajwibah an Najdiyah. adalah kitab kumpulan surat-surat dan jawaban atas pertanyaan ulama kota Najd sejak masa hidup Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb hingga sebelum tahun 1392 H. yang dirangkum oleh Syeikh Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Qâsim al Hanbali an Najdi (W.1392H). Buku tersebut pernah dijadikan materi kuliah harian oleh Syeikh Abdul Aziz ibn Bâz.

Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, dalam ad Durar as Saniyyah,1/51

“Aku telah menuntut ilmu dan orang yang mengenalku meyakini aku memiliki ma’rifat (ilmu), padahal aku waktu itu tidak mengerti makna Lâ ilâha illallah/tiada tuhan selain Allah dan aku tidak mengerti Islam sebelum Allah menganugerahkan kepadaku kebaikan ini! Demikian pula dengan guru-guruku, tiada seorang-pun dari mereka yang mengerti itu semua! Barang siapa dari ulama kota ‘Aridh mengaku mengerti makna Lâ ilâha illallah/tiada tuhan selain Allah, atau mengerti makna Islam sebelum waktu ini atau seorang dari guru-guruku ada yang mengaku mengertinya maka ia benar-benar telah berbohong dan mengada-ngada, serta menipu orang lain atau memuji diri sendiri dengan sesuatu yang tidak ia sandangnya!”

“Mereka tidak bisa membedakan antara agama Muhammad saw. dan agama ‘Amr ibn Luhay yang ia gagas untuk masyarakat Arab, bahkan agama ‘Amr menurut mereka (para ulama itu) adalah agama yang benar!” (Ad Durar as Saniyyah, 1/57)

Dari sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

Dalam surat yang ia layangkan kepada Syeikh Sulaiman ibn Sahîm al Hanbali ia menuliskan:

“Kami mengingatkan untukmu, bahwa engkau dan ayahmu telah terang-terangan menampakkan kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan!… Engkau dan ayahmu bersungguh-sungguh siang dan malam dalam memarangi agama ini… Engkau adalah orang yang menentang kebenaran, tersesat padahal mengetahui kebenaran dan memilik kekafiran atas Islam dengan tanpa keterpaksaan. Inilah surat-surat kamu di dalamnya termuat kekafiran kalian.” (Ad Durar as Saniyyah,10/31)

“Adapun Ibnu Abdil Lathîf, Ibnu ‘Afâliq dan Ibnu Muthliq, mereka semua adalah para pencaci-maki ajaran Tauhid… sedangkan Ibnu Fairûz lebih dekat kepada Islam di banding mereka.” (Ad Durar as Saniyyah,10/78)

Diinformasikan bahwa Ibnu Fairûz ini adalah seorang alim bermazhab Hanbali, bertaqlid kepada Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, seperti diakui oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sendiri.

Bahkan ditempat lain, Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb menagaskan bahwa Ibnu Fairûz ini telah:

“Kafir dengan kekafiran akbar yang mengeluarkannya dari agama Islam.” (Ad Durar as Saniyyah,10/63)

Ketika Ahmad ibn Abdil Karîm menentangnya, Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb menulis surat kapadanya:

“Engkau telah menanduk Ibnu Ghunnam dan engkau berlepas diri dari agama Ibrahim dan mempersaksikan dirimu sebagai mengikuti kaum Musyrikîn.” (Ad Durar as Saniyyah,10/64)

Dari link : http://abusalafy.wordpress.com/

Dalam ad Durar as Saniyyah, di antaranya:10/12, 64,75 dan 86.

Seluruh daerah dan negeri Umat Islam yang belum menerima ajakan Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb adalah Dâr al Kufri, tidak dikecualikan kota suci Makkah dan Madinah sebelum diduduki Syaikh dan Ibnu Sa’ud bersama tentaranya; para penganut sekte Wahhâbiyah

Link : http://abusalafy.wordpress.com/

Sementara itu sumber-sumber sejarah yang ditulis para penulis Wahhâbiyah sendiri mengakuinya, seperti yang diakui Ibnu Ghunnâm dalam kitab Tarikh-nya, bahwa lebih dari 300 kali peperangan dikobarkan kaum Wahhâbi atas kaum Muslimin dari kelompok lain; Ahlusunnah maupun Syi’ah, dan pada setiap kalinya ia mengatakan demikian,

“Pada tahun ini kaum Muslimin telah berperang melawan kaum kafir…”

Namun peperangan yang dikobarkan kaum Wahhâbi itu adalah melawan kaum Muslimin di berbagai daerah di sekitar kota Najd, Hijaz, Ahsâ’, Iraq. Dan sejarah tidak pernah mencatat bahwa kaum Wahabiyah ini mengangkat senjata mereka melawan kaum kafir; Yahudi dan atau Nashrani.

.

Wallahu a’lam.