Penjualan Pasir Sebabkan Banyak Pulau Hilang

Saya kira penjualan pasir ke luar negeri itu sudah berhenti.. Masih tohh?

Sumber: http://www.detiknews.com/

18/02/2008 20:16 WIB
Penjualan Pasir Sebabkan Banyak Pulau Hilang
Budi Hartadi – detikcom

Surabaya – Praktek penjualan pasir di beberapa pulau kecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia marak terjadi. Hal itu membuat batas wilayah Indonesia banyak yang bergeser dan berkurang.

Hal tersebut diungkapkan Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan M Syamsul Maarif dalam seminar nasional Pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, di Rektorat ITS Surabaya, Senin (18/2/2008),

Seminar yang merupakan rangkaian dari Ocean Week 3 ini juga menghadirkan pembicara pakar kelautan Daniel Mohammad Rosyid dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS dan Kepala Jawatan Hidro Oceanografi TNI AL Laksma TNI Williem Rampangilei.

Menurut Syamsul Maarif, pengelolaan sumber daya pulau kecil seharusnya bersifat normative economic, bukan positive economic atau animal economic seperti yang terjadi sekarang ini.

“Saat ini sering kita temui adanya praktik penjualan pasir di beberapa pulau kecil yang akhirnya membuat pulau-pulau kecil kita hilang dan tentunya membuat batas kita (Indonesia, red) jadi bergeser,” ujar pria yang biasa disapa Maarif ini.

Menurutnya, menjual aset negara seperti itu sama saja dengan menjual kedaulatan negara sendiri. “Pulau-pulau kecil adalah aset istimewa bagi negara, oleh karena itu harus dikembangkan secara optimal dan dijaga keberadaannya,” tegasnya.

Dipaparkan dia, jumlah pulau yang ada di Indonesia saat ini sebanyak 17.480 pulau, di mana 9.634 pulau belum bernama, 92 merupakan pulau terluar. dan hanya 4.890 pulau dari 13 provinsi yang telah terdaftar namanya di UNGEGN (salah satu badan PBB).

“Padahal pulau-pulau ini memiliki aset yang besar seperti konservasi, budidaya laut, pariwisata usaha perikanan dan kelautan,” ujarnya.

Pemanfaatan ini, lanjutnya, terhambat karena sulit dan mahalnya penyediaan prasarana dan sarana publik, dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat setempat. Selain itu kurangnya minat dunia usaha untuk berinvestasi, dan kecilnya skala ekonomi dalam hal aktivitas produksi, transportasi, konsumsi dan administrasi.

“Dalam hal ini, ITS mempunyai banyak peran dalam pengelolaan sumber daya nonhayati,” cetus Maarif.

Mungkin juga, menurutnya, di ITS memiliki penelitian-penelitian mengenai model-model kapal yang cocok dengan karakteristik pulau-pulau kecil di Indonesia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Haryo Dwita Armono, Pembantu Dekan IV FTK ITS. Kontribusi ITS dalam pengembangan pesisir dan pulau-pulau kecil masih sebatas riset dan belum pada pengaplikasian.

“Beberapa riset yang telah kami lakukan antara lain konversi energi untuk pesisir dan pulau kecil, serta konversi energi arus dan gelombang,” ungkapnya.
( bdh / nvt )