Sebuah Catatan Tentang Beda Hari Raya

Berikut berupa catatan tentang perbedaan penetapan Hari Raya yang telah lalu. Ku ambil dari sumber dengan beberapa editing dan membuang hal-hal yg kami anggap kurang perlu.

.

1. Hilal 1 Syawal 1428 H

Berdasarkan Hisab: Ijtimak akhir Ramadhan1428 H terjadi pada 29 Ramadhan yang bertepatan dengan: Kamis Legi, 11 Oktober 2007 pukul: 12:02:29 WIB.  Saat terbenam matahari di wilayah Timur Indonesia: bulan (qamar) sudah lebih dulu terbenam, tak ada hilal.

Saat terbenam matahari di Yogyakarta: bulan (qamar) masih berada pada ketinggian 00 37’ 31” (sangat rendah).

Berdasarkan Rukyat:  Tak satu pun pos pengamatan hilal di seluruh Indonesia menjumpai adanya hilal pada Kamis maghrib, 11 Oktober 2007.  Hal yang sama juga terjadi di negara-negara sekitar Indonesia. Sebabnya antara lain karena memang ketinggian bulan masih sangat rendah, sehingga hilalnya tidak nampak. (Ingat: hilal bukan bulan / qamar).

Sidang Itsbat menetapkan:  Kamis malam Jum`at belum masuk 1 Syawal, berarti Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Hari Jum’at 12 Oktober 2007 adalah 30 Ramadhan 1428.  Hari Raya Idul Fithri (1 Syawal 1428 H) jatuh pada: Sabtu, 13 Oktober 2007.

Muhammadiyah berbeda. Muhammadiyah memperkirakan dengan hisab, saat matahari terbenam pada Kamis maghrib 11 Oktober 2007 bulan masih ada di atas ufuk dengan ketinggian 00 37’ 31”. Muhammadiyah mengartikan hilal sama dengan qamar. Maka dengan ketinggian bulan seperti itu diartikan hilal sudah wujud. Disebutlah wujudul hilal, padahal sebenarnya wujudul qamar. Muhammadiyah tidak merasa perlu melakukan rukyat. Maka dinyatakanlah Kamis malam Jum’at sebagai masuknya awal bulan baru, dan Jum`at 12 Oktober 2007 sebagai hari Idul Fithri (1 Syawal 1428 H).

.

2. Hilal 1 Dzu-Hijjah 1428 H

Berdasarkan Hisab: Ijtimak akhir bulan Dzul-Qa`dah 1428 H terjadi pada: Senin, 10 Desember 2007 Pukul: 00:42 WIB. Saat matahari terbenam hari Senin 10 Desember 2007 bulan masih di atas ufuq dengan ketinggian 5° – 6°.  Karenanya hilal mustahil dapat dilihat pada Ahad maghrib 9 Desember 2007, karena posisi bulan masih di bawah ufuq.

Berdasarkan Rukyat: Saat maghrib Ahad 29 Dzul-Qa`dah tak terlihat hilal.

Sidang Itsbat menetapkan: Ahad 9 Desember 2007 malam Senin belum masuk bulan baru. Bulan Dzul-Qa`dah digenapkan menjadi 30 hari, 30 Dzul-Qa`dah adalah Senin 10 Desember 2007 adalah:  1 Dzul-Hijjah 1428 jatuh pada: Selasa 11 Desember 2007. 9 Dzul-Hijjah jatuh pada: Rabu 19 Desember 2007. 10 Dzul-Hijjah (Idul Adha) terjadi pada: Kamis 20 Desember 2007.

Arab Saudi Berbeda. Arab Saudi menggunakan hisab berdasar kalender Ummul Qura’, bahwa : Ahad, 9 Desember 2007: Matahari terbenam:  pukul. 17:39. Ijtimak terjadi pada:   pukul. 20:42  (jauh sesudah maghrib!) Tinggi hilal saat maghrib: -5°15‘

Karena itu Hilal mustahil terlihat pada Ahad sore, karena belum terjadi ijtimak dan bulan masih di bawah ufuq. Senin 10 Desember 2007 masih bulan lama, 30 Dzul-Qa`dah. 1 Dzul-Hijjah 1428 H jatuh pada: Selasa, 11 Desember 2007. 9 Dzul-Hijjah (Wuquf) jatuh pada: Rabu, 19 Desember 2007. 10 Dzul-Hijjah (Idul Adha) jatuh pada: Kamis, 20 Desember 2007
Namun, pada Senin 10 Desember 2007 koran “Arab News” dan “Saudi Press Agency” (kantor berita Arab Saudi) memuat pengumuman dari Majlis al-Qadhâ al-A`lâ (Majlis Pengadilan Tinggi) yang berbunyi:

Berdasarkan saksi-saksi yang melihat hilal pada maghrib Ahad 9 Desember 2007 maka:

* 1 Dzul-Hijja 1428 H mulai malam Senin 10 Desember 2007
* 9 Dzul-Hijja (Wukuf): Selasa, 18 Desember 2007.
* 10 Dzul-Hijjah (Idul Adha): Rabu, 19 Desember 2007.

Bagaimana mungkin hilal terlihat pada Ahad maghrib, padahal ijtimak baru terjadi pukul 20:42? Yang menarik, header berita pengumuman artinya: Riyadh, 30 Dzul-Qa`dah 1428 H, bertepatan 10 Desember 2007 M. Jadi, pada 10 Desember yang bertepatan dengan 30 Dzul-Qa`dah diumumkan pula bahwa 10 Desember adalah 1 Dzul-Hijjah.

Catatan kami (orgawam): Kemudian di Arab Saudi pula tanggal 1 Muharam 1429 H adalah pada 10 Januari 2008. Di sini tampak lucu karena Dzulhijah 1427 H berumur 31 hari.

.

Kasus sebelumnya di Arab Saudi.


1 Syawal 1420 H di Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa: Jum’at, 7 Januari 2000 -> Idul Fithri (1 Syawal 1420 H).

Padahal sehari sebelumnya, Kamis 6 Januari 2000: Matahari terbenam  pukul: 17:44. Ketinggian Bulan -4° 59′ (masih di bawah ufuq). Ijtimak terjadi  pkl. 21:14 (jauh sesudah maghrib).

Karenanya tak mungkin terlihat hilal pada Kamis sore itu. Ketinggian bulan masih di bawah ufuq, ijtimak pun belum terjadi. Maka protes pun bermunculan, antara lain dari: The Arab Union for Astronomy & Space Sciences (AUASS). Sheikh Yusuf Al-Qaradawi bahwa Jum’at 7 Januari 2000 adalah tanggal 30 Ramadhan, bukan 1 Syawal, dan muslim yang mengikuti Saudi berlebaran hari Jum’at harus menambah puasa Ramadhan-nya satu hari lagi.

Kesalahan Arab Saudi terbukti kemudian. Majalah “Ad-Dawah” 6 Shawwal 1420 melaporkan “kekeliruan Idul Fithri 7 Januari 2000”. Koran “Arab News” 11 Februari 2000 memuat fakta: 5 Februari 2000 terjadi gerhana matahari yang berlangsung hingga lewat maghrib. Gerhana matahari menandai terjadinya ‘ijtimak’. Wajar tak nampak hilal pada 5 Februari.  6 Februari sore, hilal terlihat, berarti keesokan harinya… 7 Februari adalah 1 Dzul-Qa`dah.

Kalau 1 Syawwal jatuh hari Jum’at 7 Januari, padahal 1 Dzul-Qa`dah terbukti jatuh pada pada 7 Februari, berarti: Syawwal berlangsung selama 31 hari! (Kekeliruan terbukti, tak ada bulan Hijriyah 31 hari).

Dengan kekeliruan itu pemerintah Arab Saudi lalu membentuk 6 Komite Rukyatul Hilal (di Makkah, Riyadh, Qassim, Hail, Tabuk, dan Asir) yang tiap komite terdiri dari Ulama, Ahli Astronomi, Pejabat Pemerintah dan para relawan. Efektifkah kerja keenam komite tersebut?

1 Dzul-Hijjah 1426 H di Arab Saudi. Dr.  Salman Zafar Shaikh melaporkan dari Riyadh: (http://moonsighting.com/1427zhj.html): Rabu petang, 20 Desember 2006, saya bersama Komite Rukyah Hilal Riyadh melakukan pengamatan hilal awal Dzul-Hijjah, tapi kami tak melihat hilal. Ke-5 Komite Rukyah Hilal lain (Makkah, Qassim, Tabuk, Hail, dan Asir) juga melaporkan tak melihat hilal. Begitu juga berdasarkan Taqwim Ummul Qura’.

Tetapi pemerintah Arab Saudi membuat keputusan yang mendahului. Lagi-lagi berdasarkan kesaksian yang tidak logis.

Hisab Universitas Ummul Qura (Taqwim Ummul Qura): 1 Dzul-Hijjah  Jum’at 22 Des 2006. Wuquf,  Sabtu 30 Des 2006, dan Idul Adha jatuh pada Ahad, 31 Des 2006 .

Keputusan Majelis Pengadilan Tinggi Saudi Arabia, 1 Dzul-Hijjah  Kamis 21 Des 2006, Wuquf  Jum’at 29 Des 2006, dan Idul Adha Sabtu 30 Des 2006

Lalu saya menjumpai Hamza Al-Muzani, penulis yang mengeritik penetapan Idul Adha berupa artikel “Kesaksian yang Mustahil” di “Al-Watan” (Kamis, 10 Dzul-Hijjah 1425). Ia menyatakan: “saksi yang menetapkan Idul Adha tahun lalu (2003 M) adalah seorang kakek-kakek berumur 80 tahun”. Setelah menulis kritik itu ia dikenai tuduhan yang dibuat-buat dan dijatuhi hukuman 4 bulan penjara dan 200 cambukan! Syukurnya, belakangan Raja Abdullah (raja yang paling intellektual) mau mendengar pendapat para ilmuwan dan membatalkan hukuman tersebut.

Siapakah sang saksi itu:

Kelak banyak orang pun tahu, kekeliruan Ramadhan dan Idul Fitri 1427 pun bersumber dari kesaksian kakek yang sama, yaitu Al-Khudayri dari Huta Sudayr. Kakek ini yang mengaku melihat hilal awal Dzul-Hijjah 1427, padahal ke-6 Komite Rukyah Hilal dengan segala kelengkapan alatnya tidak melihat hilal dan hisab pun memang memustahilkannya.

Hal lain yang memprihatinkan adalah Majlis Pengadilan Tinggi Arab Saudi pernah membuat pengumuman di koran ar-Riyadh yang meminta umat Islam untuk melakukan rukyatul hilal pada tanggal 28 Sya`ban 1427 H. Sebuah hadits Nabi SAW menyatakan bahwa satu bulan itu 29 hari atau 30 hari. Ilmu falaq pun tidak pernah mengajarkan ada bulan hijriyah yang cuma 28 hari. Syukurnya tidak ada orang “yang mengaku” melihat hilal pada tanggal tersebut. Bayangkan kalau ada yang mengakuinya, lalu kesaksiannya diterima begitu saja, berarti terjadi bulan Sya`ban yang cuma 28 hari!?

Pernah di tahun 1984 orang di Arab Saudi berpuasa Ramadhan hanya selama 28 hari, hanya karena ada yang mengaku melihat hilal di hari ke-28. Pengumuman tersebut termuat dalam koran ar-Riyadh 20 September 2006.

1 Ramadhan 1426 H di Arab Saudi

Data di bawah ini menunjukkan bagaimana Arab Saudi menetapkan 1 Ramadhan pada Sabtu 23 September 2006 padahal pada Jum`at maghrib posisi bulan masih di bawah ufuq. Saat kejadian ini berlangsung penulis sedang berada di Makkah dan menyaksikan langsung kerisauan orang-orang yang mengerti ilmu falaq di sana, juga Timur Tengah umumnya.

Jum’at, 22 Sep 2006 Tinggi Bulan saat Mghrib  di Banda Aceh, -1° 51’ 13”. Sedangkan di  Makkah -0° 14’ 00”. Maka di Indonesia 1 Ramadhan jatuh pada Ahad, 24 Sep 2006. Namun Sabtu, 23 Sep 2006 di ARAB SAUDI adalah 1 Ramadhan.

Komentar Syeikh Ali Jum’ah (Mufti Mesir):
“Siapa yang mulai puasa Ramadhan hari Sabtu, berarti ia telah puasa sehari dari bulan Sya’ban”.

1 Syawal 1428 H di Arab Saudi.

Data astronomis Ilmu Falaq untuk Makkah menunjukkan bahwa pada Kamis, 11 Oktober 2007:

* Ijtimak                         pk. 08:02
* Bulan terbenam            pk. 17:59 (sebelum matahari terbenam) Cairo, bulan terbenam  pk. 17:55
* Matahari terbenam       pk. 18:00
* Tinggi Qamar saat
Matahari terbenam       -1° 1,7′ (di bawah ufuq).

Namun Arab Saudi mengumumkan Idul Fithri 1 Syawal 1428 H jatuh keesokan harinya, yaitu Jum`at 12 Oktober 2007. Padahal kemarin sorenya saat maghrib jelas-jelas bulan masih di bawah ufuq. Keputusan ini dibantah oleh Kesultanan Omman (tetangga Arab Saudi) dengan pengumunan yang menyatakan pada Kamis 11 Oktober 2007 tidak terlihat hilal Syawal. Maka Idul Fithri jatuh pada Sabtu 13 Oktober 2007.

……………………………………………..

Tamat
Oleh: Wahfiudin

Sumber: http://www.qalbu.net/
dst.