Krisis, Bank Syariah Inggris Banyak Didatangi Nasabah Non-Muslim

Bank Syariah Inggris Banyak Didatangi Nasabah Non-Muslim
Selasa, 28 Oktober 2008 08:37

London, NU Online
Pada hari Jumat siang minggu lalu, para nasabah datang berbondong-bondong menuju Bank Islam Britania (IBB) di cabang London Barat. Mereka yang datang bukan Muslim saja, melainkan juga nasabah non-Muslim.

Pada saat bank konvensional banyak berguguran akibat kredit macet dan krisis moneter, IBB malah melaporkan pertumbuhan pelanggan hingga 5 % dan 13 % dalam kinerja tahun ini.

“Alasan kami bertahan, sebab bank diproteksi dengan lebih baik dari kredit macet yang mempengaruhi bank-bank konvensional arus besar,” ujar Sultan Choudhury, direktur komersial IBB seperti yang dikutip oleh IslamOnline.net


Krisis moneter menyapu Amerika Serikat (AS) bertubi-tubi bulan lalu setelah Lehman & Brothers, bank investasi terbesar keempat di sana bangkrut dan sejumlah bencana keuangan menimpa raksasa Wall Street.

Situasi itu langsung saja memicu efek domino di seluruh dunia, membuat bank-bank konvensional saling meminjam satu sama lain di pasar uang, menjadikan berkurangnya kredit.

Sejak itu pemerintah Barat memompakan milyaran dolar ke dalam bank-bank bermasalah untuk menjaga kredit tetap mengalir dan mencegah keruntuhan total dalam keuangan.

Menanggapi itu Choudhury mengatakan jika IBB tidak mengambil pinjaman berbasis-bunga dari bank lain, dan memiliki investasi berbasis aset dengan kualitas tinggi.

Itu berarti bank menghindari ketidakstabilan yang membuat bank-bank kelas kakap saat ini menderita,” papar Choudhury. “Sebab operasi kami tidak memakai skema berbasis bunga,” imbuhnya

Islam memang melarang Muslim dari praktek bunga, baik menerima atau membayar riba pinjaman.

Transaksi dengan bank Islami harus didukung dengan aset nyata–bukan aset bayangan yang sering menjadi satu paket dalam kredit perumahan.

Dalam bank Syarah, Investor memiliki hak mengetahui apakah dana mereka sedang digunakan, dan setiap sektor diawasi oleh dewan pengawas berdedikasi, seperti pemerintah berwenang atas kebijakan nasional pada umumnya.

Choudhury menyatakan kenaikan jumlah nasabah IBB diakibatkan keinginan mencari pilihan lebih aman untuk uang mereka.

Abul Fozoll, manajer IBB cabang Shepherds Bush mengatakan Muslim menjadi mayoritas nasabah, dan hampir setiap cabang berlokasi di area dengan jumlah populasi Muslim besar.

Namun, pejabat bank tersebut mengatakan jika IBB akan membuka lebih banyak cabang di area lain yang memiliki prospek dengan nasabah potensial.

IBB menjadi satu-satunya bank Islam di Inggris. Namun mereka menolak membedakan nasabah Muslim dan non Muslim. Non Muslim beralih ke IBB karena kesempatan untuk mendapat kredit perumahan dan kemudahan dari bank-bank konvensional lain sangatlah kecil. Laporan akhir-akhir ini dari Dewan Perkreditan menunjukkan tingkat penurunan dalam penyetujuan dan kemudahan.

Sementara IBB menanjak dengan meluncurkan skema pembayaran rumah berdasar prinsip keuangan Islam yakni Ijara (menyewa) dan Penghilangan Musharaka (mengurangi kerjasama)

Bersama dengan kemudahan keuangan lain, Chodhury mengatakan jika pertumbuhan nasabah non-Muslim murni semata-mata kode etik penawaran yang ditawarkan IBB.

“Ini kode etik, berinvestasi dalam bisnis yang dianggap tidak sesuai hukum,dilarang. Termasuk perusahaan yang bergerak dalam judi, pornografi, tembakau, dan komoditas lain yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. (it/rol)

.

Sumber: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=14732