Amrozi cs, Ketika Penjahat Tampak Seperti Pahlawan

Ketika ada terpidana mati, yang sering terjadi adalah pemberitaan tak berimbang. Terpidana diberitakan terus menerus sehingga terkesan menjadi terdzolimi. Bahkan seolah menjadi korban. Perbuatan kejahatannya tak diekspos sama sekali. Korban kejahatannya tak dimuat. Pemberitaan seperti terjadi berulang kali. Ditambah lagi dengan lamanya (tunda) eksekusi, menambah berita terpidana terekspos sehingga berubah citra-nya menjadi pahlawan.

Amrozi cs, Sumiasih, Sugeng, Tibo, dll. Pemerintah seharusnya lebih cepat mengeksekusi. Berita seharusnya lebih berimbang, dengan mengingatkan bahaya kejahatan terpidana. Berikut adalah sebuah artikel mengenai hal ini.

Kemudian artikel di bawahnya adalah sebuah potret tentang janda korban bom bali 1 (Amrozi cs) yang harus mempertahankan hidup sendiri. Para suami mereka adalah korban keganasan bom tersebut. Menekankan bahwa perbuatan terpidana adalah bukan mujahid, tetapi teror (pembunuhan). Korban pun saudara kita sendiri, baik muslim atau non muslim (yg dilindungi) atau tamu (turis yg dilindungi).

Sayang .. tak ku temukan foto/ gambar tentang keadaan/ kondisi korban sesaat setelah bom bali 1 meledak (mungkin memang tak ada). Untuk sekedar mengingatkan pembaca .. betapa dahsyat dan jahatnya kelakuan amrozi cs di bumi Indonesia nan damai ini.

Opini

Bukan ’Seleb’ dari Tenggulun
Pemberitaan tak proporsional membuat tiga terpidana mati bom Bali menjadi ”pahlawan”. Sisi korban tragedi Kuta harus dimunculkan.

MESTINYA tiga lelaki itu tak diperlakukan bagai selebritas. Mereka orang yang paling bertanggung jawab atas pengeboman kawasan Kuta, Bali, Oktober 2002—peristiwa yang menyebabkan 202 orang tewas dan 209 lainnya terluka. Lagi pula ketiganya—Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi—telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Aparat sedang bersiap melakukan eksekusi.

Yang kita lihat di media massa sungguh aneh. Ketiganya tidak hanya diberitakan lebih dari sekadar orang terkenal, tapi juga ditampilkan sebagai korban atau malah pahlawan. Takbir yang dipekikkan ketiganya dari penjara Nusakambangan muncul di layar televisi dan ditulis di media cetak. Istri-istri terpidana diwawancarai dengan pertanyaan yang mengundang haru: ”Bagaimana Ibu menghadapi musibah ini?”

Media memang punya alasan menyajikan berita semacam itu—meskipun alasannya bisa diperdebatkan. Harus diakui liputan tentang terpidana mati dan keluarganya secara jurnalistik memang menarik. Dengan liputan-liputan mendalam dan penuh ”haru biru”, rasa ingin tahu pembaca dan penonton terpenuhi. Ini alasan pertama.

Alasan kedua sebenarnya salah kaprah. Ada media yang menganggap memberitakan sisi kemanusiaan dari para terpidana dapat menjadi penyeimbang atas liputan terhadap kekerasan yang telah Amrozi cs lakukan. Prinsip meliput dua sisi (cover both sides) tidak bisa dikatakan sudah terpenuhi dengan cara seperti itu.

Ketiga, media menganggap liputan yang simpatik tentang ketiga terpidana adalah cara yang jitu untuk menentang penerapan hukum mati di Indonesia—yang bertahun-tahun jadi polemik. Terpidana kemudian ditempatkan sebagai ”korban” dari penerapan hukum yang ditentang itu.

Ketiga alasan itu tentu sah-sah saja dikemukakan. Tapi patut dicamkan bahwa kejahatan yang telah dilakukan oleh trio asal Tenggulun itu telah merenggut banyak nyawa. Penerapan prinsip cover both sides mestinya mengharuskan media juga menampilkan sisi korban tragedi bom Bali, misalnya dengan mewawancarai keluarga korban.

Mungkin, bagi keluarga terpidana, eksekusi trio Tenggulun itu merupakan musibah. Tapi, bagi ratusan keluarga yang sanak familinya tewas terpanggang di Bali enam tahun lalu, eksekusi mati adalah hukuman yang dianggap setimpal. Artinya, media mesti mengambil jarak. Kata ”musibah” sangat terasa berpihak pada para terpidana.

Dunia jurnalistik Indonesia bukan tak punya preseden tentang pemberitaan berimbang terhadap terpidana mati. Satu di antaranya kasus eksekusi terhadap Sumiasih dan Sugeng, Juli lalu. Bersama tiga terpidana lain, keduanya terbukti membunuh keluarga Letnan Kolonel Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam.

Menjelang eksekusi, media menulis tentang Sumiasih, perempuan tua dengan rambut beruban, yang menanti ajal di depan regu tembak. Tapi simpati itu dilengkapi dengan sejumlah catatan tentang sadisnya Sumiasih cs membunuh para korban.

Syahdan, Purwanto dan keluarganya dihantam dengan martil sebelum dimasukkan ke mobil, dibakar, dan diterjunkan ke jurang. Jenazah mereka sulit dikeluarkan karena terperosok ke dalam lubang yang dalam. Tubuh korban gosong, bahkan tercecer dalam beberapa bagian. Dalam liputan tentang eksekusi Sumiasih, umumnya media bisa menghindari sikap partisan.

Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas tak ubahnya Sumiasih. Mereka melakukan kesalahan dan pengadilan telah menjatuhkan hukuman. Ketiganya bukan selebritas, apalagi pahlawan.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/11/10/OPI/mbm.20081110.OPI128693.id.html

.

.

Perjuangan Korban Bom Bali Pertahankan Hidup

Selasa, 12 Oktober 2004


SEBUAH rumah di Jalan Raya Pemogan 135, Denpasar Selatan, Bali, sejatinya adalah rumah tinggal keluarga. Setidaknya, sejak Maret 2003 dari rumah tiga kamar dan satu ruang tamu itu selalu terdengar kesibukan mesin jahit beroperasi. Namun, Sabtu (9/10) menjelang siang tempat itu begitu sepi. Tidak lagi terdengar mesin jahit beroperasi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Di ruang tamu tampak dua ibu setengah baya sedang bercakap-cakap dengan akrab. Entah apa tema kisahnya, namun keduanya tiba-tiba bubar ketika mengetahui ada pengunjung bertamu.

Setelah terlibat dalam percakapan, diketahui rumah keluarga itu memang adalah tempat usaha para janda korban peledakan bom Bali, 12 Oktober 2002. Tempat usahanya sendiri bernama lengkap Adopt-A-Co-Op Smile for Life Widows of Bali Bombing, yang lazim disingkat Adopta. Di sanalah sejumlah janda berjuang mempertahankan hidup dengan menggeluti usaha menjahit pakaian pesanan. Mereka adalah Ni Luh Erniati, Ketut Jontri, Rastini, Endang Isnanik, Warti, dan Leniasih.

Dua janda yang berada di ruang tamu Adopta itu adalah Ny Endang Isnanik (33) dan Ny Zuniar Nur Aini (44). Zuniar juga janda akibat tragedi yang sama, tetapi bukan komunitas Adopta. “Saya menetap di Situbondo (Jawa Timur), baru tiba di Denpasar kemarin (8/10) atas undangan menghadiri peringatan dua tahun bom Bali, tanggal 12 Oktober ini,” tutur janda dua anak tersebut.

Terang sudah titik temu keintiman kedua ibu setengah baya itu. Sama-sama menjadi janda akibat kekejaman bom Bali. Titik temu lainnya, suami Endang, Aris Munandar, dan suami Zuniar bernama Asroyo Rahmat sama-sama bekerja sebagai pengemudi mobil sewaan yang selalu mangkal dan mengais rezeki di sekitar Kafe Sari Club dan Paddy’s Pub di Legian, dua titik ledakan berdekatan di Kuta. Aris dan Asroyo juga diketahui bersahabat dekat dan sama-sama menjadi korban ledakan bom Bali di tempat mangkal-nya itu.

Endang, yang kini menjanda dengan tiga anak, masih sempat menyaksikan mayat suaminya yang tewas terpanggang dalam mobilnya yang terbakar.

Zuniar, yang tidak mengikuti suaminya ke Bali karena usaha menjahit yang ia geluti sejak lama di Situbondo, justru baru memperoleh kepastian bahwa Asroyo telah tiada pada enam bulan setelah ledakan bom Bali. “Kepastian kematian Mas Asroyo itu diketahui setelah melalui pemeriksaan DNA,” tuturnya dengan linangan air mata.

TIDAK menjahit? Endang mengakui usaha mereka belakangan ini sedang sepi. “Kami menjahit atas orderan dari luar. Orderan lagi sepi dan kebetulan kami juga sedang siap-siap mengenang dua tahun bom Bali,” tutur ibu dari Garil Arnanda (12), Dwiga Meyza (7), dan Izzulhag Trigi (4) itu.

Dua janda komunitas Adopta lainnya, Ny Warti (25) dan Ny Ketut Jontri, mendukung penjelasan Endang.

“Usaha kami belakangan ini memang sepi. Sementara kontrakan rumah tempat usaha ini sudah akan berakhir Januari 2005. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan usaha dan hidup kami,” kata Warti, janda seorang anak bernama Rachmat Hidayat (6). Suami Warti yang bernama Faturrachman bekerja sebagai pengemudi mobil pimpinan perusahaan Haagen-Dazs Ice Cream di kawasan Kuta.

Ia mengisahkan, pada malam naas itu Faturrachman tewas akibat ledakan bom di Legian, Kuta, sesaat setelah mengantar bosnya meeting.

“Mas Faturrachman terakhir kontak ketika ia terjebak dalam kemacetan di sekitar Sari Club dan Paddy’s Pub di Kuta. Selanjutnya hingga peledakan terjadi tidak pernah kontak lagi. Saya menjadi sangat panik dan ketakutan. Ternyata benar, suami saya juga menjadi korban kekejaman bom Bali,” tutur Warti sendu.

Duka akibat tragedi terus saja menyelimuti para janda korban bom Bali ini. Kecuali itu, mereka, terutama para janda komunitas Adopta, kini juga dilanda kecemasan terkait dengan nasib usaha sebagai tumpuan hidup bersama anak-anak mereka.

Usaha menjahit Adopta sejak awal berjalan berkat santunan pasangan David dan Moyra. Warga Australia itu, menyusul peledakan bom Bali, langsung berupaya menolong para korban itu. Awalnya ia berhasil menemui sebagian korban, kebetulan para janda di Bali. Setelah berdiskusi dengan para korban, akhirnya disepakati membuka usaha menjahit sebagai tumpuan hidup, sejak Februari 2003.

Pasangan David dan Moyra langsung mengontrak rumah keluarga yang kini menjadi tempat usaha Adopta. Nilai kontraknya Rp 10,5 juta per tahun. Sang penyantun juga sudah melunasi pembayaran kontrak setahun terakhir yang berlangsung hingga Januari 2005. Selain itu, David dan Moyra juga menyumbang mesin jahit enam unit, mesin obras (2), dan lainnya, mendukung usaha Adopta.

Mengetahui para janda bukan penjahit, David dan Moyra bahkan harus membayar penjahit profesional sebagai tutor selama tiga bulan pertama. Setelah para janda bisa menjahit sendiri, ternyata David dan Moyra harus pulang ke negara asalnya dan tidak kembali lagi ke Bali hingga sekarang akibat persoalan terkait dengan keimigrasian.

Meski tidak lagi secara fisik bersama komunitas Adopta, David dan Moyra ternyata masih melanjutkan bantuan kemanusiaannya bagi para janda ini. Sesuai dengan konsep awal, para janda tidak mengandalkan penghasilan dari usaha menjahit. Hasil yang diperoleh sepenuhnya mengisi kas Adopta untuk membeli bahan baku. Para janda itu mendapat santunan bulanan. Pada bulan-bulan awal tragedi bom itu, mereka menerima santunan Rp 550.000 per bulan. Selanjutnya naik menjadi Rp 650.000 dan sejak Oktober ini naik lagi menjadi Rp 1 juta per bulan.

Menurut keterangan yang diperoleh Kompas, santunan yang meningkat belakangan itu setelah Adopta juga memperoleh bantuan tambahan dari seseorang bernama Jim, juga warga Australia.

MESKI santunan naik menjadi Rp 1 juta per bulan, serta biaya sekolah 12 anak dari para janda tersebut ditanggung Yayasan Kids, tetap saja kecemasan kini melanda komunitas Adopta. Kecemasan itu beralasan karena order jahitan yang mereka peroleh kian sepi. Sementara itu, sebagaimana diakui Endang, hingga kini belum ada kabar dari penyantun David dan Moyra tentang kelanjutan kontrak rumah sebagai tempat usaha Adopta. “Kami belum mampu membayar nilai kontrak hingga Rp 10,5 juta. Syukur kalau David dan Moyra masih bersedia membayarnya,” paparnya.

Selain berharap Adopta tetap “hidup”, para janda itu sebenarnya sering mendiskusikan tentang kemungkinan membuka usaha lain, seperti warung makan atau jualan lainnya. Namun, kesulitan modal adalah kendalanya. (ANS)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0410/12/utama/1322803.htm