Balada Susno: Takut Diracun

Membaca berita ini jadi teringat kasus meninggalnya Munir. Jika Pak Susno tiba-tiba meninggal dalam waktu dekat, 1 bulan 2 bulan, atau 1 tahun ….. ihhh semoga saja tidak.

Namun saya masih percaya bahwa institusi POLRI pasti akan menjaga asetnya.

.

Bawa Makanan Sendiri, Susno Takut Diracun?

Jumat, 23/04/2010 | 11:51 WIB

MANTAN Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji diperiksa Mabes Polri selama tiga hari berturut-turut. Selama menjalani pemeriksaan, Susno selalu membawa makanan sendiri.

Mengapa Susno tidak pernah mau makan dari makanan yang telah disediakan penyidik? Usut punya usut, bukan karena Susno takut diracun. Istrinya, terus mempersiapkan segala kebutuhan Susno, termasuk makanan, sebelum pemeriksaan.

“Bapak selalu bawa makan dan minum sendiri sesuai kesukaan, tidak ada suudzon. Biasa Ibu siapkan makanan setiap pagi sebelum berangkat. Kemarin aja dibawakan roti dan jus,” ujar kuasa hukum Susno, Efran Helmi Juni di kediaman Susno di Puri Cinere, Depok, Jumat (23/7/2010).

Menurut Efran, Susno sangat suka dengan masakan-masakan tradisional. Itulah alasan mengapa Istrinya selalu mempersiapkan makanan spesial untuk Susno.

Efran melanjutkan, saat ini Susno masih sangat lelah setelah menjalani pemeriksaan maraton oleh tim independen Polri. “Beliau luar biasa lelah, dari Selasa sampai malam Jumat diperiksa maraton sebagai saksi dalam perkara Gayus dan kawan-kawan,” tambahnya.

Saat ini, lanjut Efran, Susno tengah berisitirahat. Meski kelelahan, Susno siap jika nantinya akan dipanggil lagi sebagai saksi. “Pemeriksaan berikutnya belum bisa kita pastikan. Namun Beliau sangat siap, dengan senang hati beri keterangan,” jelasnya.

Pantauan detikcom di lokasi, rumah Susno tampak ramai ditunggui kerabatnya. Selain itu sebuah baliho ukuran 5×10 meter berisi dukungan terhadap Susno dari berbagai ormas digantung di depan rumah. Susno sendiri berada di dalam rumah dan direncanakan akan keluar rumah saat salat Jumat nanti. Beberapa wartawan juga masih menunggu di rumah Susno.

Sebelum ini, Susno Duadji juga pernah menolak meminum minuman yang disuguhkan di Propam Mabes Polri. “Tadi dia kontak, beliau tidak mau minuman di dalam (Propam),” ujar pengacara Susno, Efran Helmi Juni yang ditemui wartawan di Propam Mabes Polri, Senin (12/4/2010). “Apa takut diracun?” timpal wartawan. Menjawab pertanyaan, saat itu Efran tidak menjawab.

Karena itu, pengacaranya pun hendak menemui Susno untuk memberi minum. Namun sayangnya, permintaan pengacara untuk bertemu ditolak oleh petugas propam yang berjaga di luar. “Kita hanya ingin dia minum,” ucap Efran.

Perwira Reformis

Beberapa waktu lalu, Susno Duadji menyatakan apabila dirinya menjadi Kapolri, berani menjamin dalam waktu enam bulan Polri akan bersih. Caranya, cukup jebloskan jenderal nakal ke penjara. Menurutnya, kalau Kapolri berubah, otomatis jajaran di bawahnya akan ikut berubah.

“Kalau saya dipercaya jadi Kapolri itu amanah, kerjakan dengan baik dan harus membawa kemaslahatan pada umat. Tidak berhasil enam bulan saya mundur. Perubahan signifikan bisa, yang diubah satu orang saja, Kapolrinya,” kata Susno saat kuliah umum dan diskusi buku ‘Bukan Testimoni Susno’ di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang, Jumat (19/3/2010) .

Ia juga menjelaskan, indikasi markus kasus pajak di Polri kian kuat setelah Mabes Polri menggelar jumpa pers. Pembukaan blokir uang Rp 25 miliar, menurutnya, dilakukan saat Bareskrim demisioner kepemimpinan pada 26 November 2009. Sementara SK Pencopotan Susno tertanggal 24 dan serah terima jabatan tanggal 30 pada Komjen Ito Sumardi. “Si Raja (Brigjen Raja Erizman) tidak lapor saya, tidak lapor Pak Ito. Jelas dia menelikung. Tangkap Raja, borgol dan masukkan ke sel malam ini juga,” kata Susno.

Sebenarnya, saat menjadi Kapolda Jabar yang lalu, Irjen Pol Drs Susno Duadji SH, MSc, dikenal sebagai perwira reformis. Kisahnya, di satu kesempatan, Kapolda Susno saat itu mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, Kapolda Susno hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”, anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya. Lantas, Susno pun memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. “Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

Susno Duadji lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan 1 Juli 1954. Anak ke-2 dari depalan bersaudara ini lulus akpol tahun 1977. Ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar, Susno dikenal berdedikasi tinggi dalam memberantas pungli dan koprupsi. Berikut riwayat karir Susno Duadji sebelum menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

PAMA POLRES WONOGIRI (1978)PAMA POLRES WONOGIRI (1978)
KABAG SERSE POLWIL BANYUMAS (1988)
WAKA POLRES PEMALANG (1989)
WAKA POLRESTA YOGYAKARTA (1990)
KAPOLRES MALUKU UTARA (1995)
KAPOLRES MADIUN (1997)
KAPOLRESTA MALANG (1998)
WAKAPOLWILTABES SURABAYA (1999)
WAKASUBDIT GAKTIP DIT SABHARA POLRI(2001)
KABID KORDILUM BABINKUM (2001)
KABID BID RAPKUM DIV BINKUM POLRI (2002)
PATI (DALAM RANGKA TUGAS LUAR) FORMASI MABES POLRI WAKIL KEPALA PPATK) (2004)
KAPOLDA JABAR (2008)

(*/dtc/red)

Sumber: http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/13158/Bawa-Makanan-Sendiri-Susno-Takut-Diracun.jp

.

Ini berita yang lebih baru, setelah pak Susno berhasilĀ  “dikurung”. Dari berita ini, jelas pak Susno tak bisa dibawakan makanan sendiri.

.


Kamis, 13/05/2010 11:46 WIB
Susno Tak Lagi Bisa Terima Kiriman Makanan Keluarga
Djoko Tjiptono – detikNews

Jakarta – Berbagai pembatasan terus diterapkan terhadap Komjen Pol Susno Duadji pasca mendekam di rutan Brimob Kelapa Dua. Setelah blackberry-nya disita, Susno kini dilarang menerima kiriman makanan dari keluarga.

“Pak Susno sekarang tidak boleh lagi menerima kiriman makanan dari rumah,” kata salah satu pengacaranya Tjoetjoe Sandjaja kepada detikcom, Kamis (13/5/2010).

Tjoetjoe menambahkan, intensitas pertemuan Susno dengan keluarga atau kerabat juga diperketat. Kini keluarga maupun temannya hanya bisa bertemu Susno 2 kali dalam seminggu.

“Keluarga dan teman hanya boleh mengunjungi beliau sepakan dua kali, yakni Selasa dan Jumat pukul 13.00-16.00 WIB,” ujar Tjoetjoe.

Menurut Tjoetjoe, hal ini jelas menunjukkan penempatan Susno di Rutan Brimob Kelapa Dua sebagai upaya pembatasan terhadap Susno. Dengan demikian, mantan Kabareskrim ini tidak mudah berkomunikasi dengan publik dan media.

“Polisi takut Susno membuka kasus yang lebih besar dan coba mengalihkan isu,” tukas Tjoetjoe.

(djo/fay)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/05/13/114616/1356493/10/susno-tak-lagi-bisa-terima-kiriman-makanan-keluarga