Penistaan Agama dan Teladan Nabi saw

Kali ini saya ingin menceritakan kisah baginda Nabi ketika menerima penghinaan dan musuh yang berat dalam memusuhi dakwah islam beliau saw. Yang pertama adalah perihal islamnya sayidina Umar ibn Khatab ra, dan yang kedua adalah doa baginda Nabi saw ketika menerima beratnya siksaan dan hinaan ketika berada di Thaif.

Mengenai kisah islamnya sayidina Umar ra, kita ketahui bahwa dakwah baginda Nabi saw mengalami tentangan yang berat dari kaum Quraisyi. Pada masa-masa awal islam dibawa Rasulullah saw, beliau melihat ada dua tokoh yang sangat berpengaruh namun membenci beliau ketika itu, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Jahal bin Hisyam.

Oleh karena itu kemudian baginda Rasul saw berdoa,
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Rasulullah mendoakan agar Umar atau Abu Jahal bin Hisyam memeluk Islam. Akhirnya dengan kisahnya yang heroik akhirnya Umarlah yang masuk Islam.

Demikianlah, Nabi saw yakin bahwa Allah akan lebih menguatkan Islam dengan seorang dari kaum yang pada jaman itu masih dalam kekafiran. Maka Rasulullah merealisasikan keyakinannya kepada Allah dengan cara berdoa. Berarti doa adalah kunci untuk mensukseskan dakwah agama yang mulia ini.

.

Kemudian kisah beliau di Thaif. Seperti kita ketahui, pada masa awal baginda Nabi saw diutus Allah swt sebagai Nabi dan Rasul, maka sungguh berat beban beliau dalam mendakwahkan agama yang mulia ini. Berbagai ejekan, hinaan, bahkan serangan fisik diterimanya. Penderitaan ini lebih berat lagi ketika paman beliau saw Abu Thalib wafat.

Ketika paman baginda Nabi saw, Abu Thalib meninggal dunia, karena sangat kuatnya tekanan dari penduduk Makkah, beliau pergi menuju ke Tha’if. Rasulullah saw berharap agar penduduk Thaif akan melindunginya di sana. Beliau menemui tiga pemuka Tsaqif bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Khubaib dan Mas’ud dari Bani Amru. Beliau berharap agar mereka mau melindunginya serta mengadukan halnya dan apa yang dibuat oleh kaum Quraisyi terhadap dirinya sesudah kematian Abu Thalib. Namun bukan saja mereka menolak beliau, tetapi mereka menghalaunya dan memperlakukan apa yang tidak sewajarnya. [Shahjh Bukhari 1:458]

Dalam riwayat Bukhari diceritakan bahwa suatu ketika Aisyah ra. isteri baginda Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW, ‘Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?’

Jawab Rasul saw, ‘Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! ‘Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku:

‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!‘ Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: ‘Hai Muhammad!’ Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. ‘Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!’

‘Jangan… jangan! Bahkan aku berdoa semoga Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun’, demikian jawab Nabi SAW.

Kelak di kemudian hari, doa baginda Nabi saw ini terkabul dengan banyaknya pemeluk islam dari kota Thaif ini.

Dua kisah ini kita gunakan sebagai ibrah, bahwa doa dan berperilaku santun adalah contoh baginda Nabi saw yang nyata.

Tidak perlu marah-marah ketika agama ini dihinakan (demikian menurut berita) oleh seorang tokoh. Apalagi tokoh tersebut tidak punya riwayat membenci islam. Ingatlah .. Sayidina Umar dan masyarakat Thaif menghinakan lebih jauh lagi ketika itu. Dan Rasul saw memaafkannya bahkan mendoakannya.

Kita doakan semoga tokoh itu kelak kemudian hari masuk islam. Amien. Atau ada dari keturunannya yang menjadi benteng islam. Amien.

Jika tidak mau mencontoh Nabi saw … siapa lagi panutan kita.

Mohon maaf kalau tak berkenan.