Tingkatan Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah salah satu cabang ilmu yang membahas tentang cara mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan jiwa, menguasai diri, dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Untuk mencapai kedekatan kepada Allah swt, bukan hanya melalui ibadah fisik semata, namun juga harus melalui pengendalian batin dan pikiran yang positif.

Untuk mencapai kedekatan dan kecintaan dengan Allah SWT, ilmu tasawuf membagi menjadi 4 tingkatan. Keempat tingkatan tersebut adalah syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat. Berikut adalah penjelasannya.

Syariat

Tingkatan pertama dalam tasawuf adalah syariat. Syariat adalah hukum dan aturan dalam agama Islam. Di dalamnya memuat aturan-aturan shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya.

Pada tingkatan ini, seseorang masih fokus pada pemenuhan aturan-aturan formal dalam menjalankan ibadah dan belum memperdalam pengetahuan lebih lanjut. Meski begitu, para ulama menegaskan bahwa penegakan syariat wajib dilakukan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Tarekat

Tingkatan kedua adalah tarekat. Tarekat adalah cara atau metode untuk mendekatkan diri. Pada tingkatan ini, seseorang menempuh jalan atau cara ibadah tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada berbagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tentu saja ibadah wajib harus dilakukan, namun dengan tarekah, seseorang yang ingin mendekat kepada Allah menempuh jalan dengan menambah amalan-amalan sunnah sesuai dengan tarekahnya masing-masing. Ada yang dengan memperbanyak amalan dzikir, memperbanyak puasa sunnah, dan/atau memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya.

Perlu ditekankan di sini bahwa tarekah tidak boleh bertentangan dengan syariah. Tarekah yang ditempuh harus berjalan di atas rambu-rambu syariah.

Hakikat

Tingkatan ketiga adalah hakikat. Hakikat bermakna benar sebenar-benarnya. Hakikat juga bermakna tujuan akhir (esensi), juga bermakna inti sebenarnya. Pada tingkatan ini, seseorang telah mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Ia sadar akan keberadaan dirinya dan hubungannya dengan Tuhannya.

Para sufi mengartikan hakikat adalah tujuan akhir dari segala amal yang ditempuh oleh seorang sufi, yaitu dekat dengan sang Pencipta. 

Ma’rifat

Tingkatan tertinggi dalam tasawuf adalah ma’rifat. Pada tingkatan ini, seseorang telah mencapai tingkat hakikat, dan lebih tinggi lagi, yaitu mencintai Allah swt sepenuhnya. Seseorang yang mencapai tingkat ma’rifat tidak hanya dekat dengan Allah, tetapi telah mencintai Allah, melebihi cintanya kepada yang lain-lain.

Di dalam ma’rifat ada 2 tingkatan. Pertama adalah mengenal Allah. “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia (akan mudah) mengenal Tuhannya“. Maka sebelum mengenal Allah, ia harus mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu. Mengenali lingkungannya. Kemudian belajar mengenal Tuhannya, melalui ciptaan-ciptaan-Nya, sifat-sifat-Nya. Kemudian tingkatan 2 adalah adanya RASA CINTA kepada Allah sang Pencipta yang Maha Rahman dan Maha Rahiim. Manakala ia berhasil mencintai Allah dengan sepenuhnya dan Allah juga mencintainya, maka sampailah ia pada tingkatan tertinggi dalam tasawuf, yaitu sebagai Waliyullah.

Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari).

Wallahu a’lam

Dari berbagai sumber